Pagerwesi: Benteng Spiritual Umat Hindu Bali Diteguhkan dalam Nuansa Adat yang Sakral

IMG 20260408 WA0062

DENPASAR,BALI | Go Indonesia.Id _Umat Hindu di Bali kembali menggelar perayaan Hari Raya Pagerwesi dengan penuh kekhidmatan, meneguhkan nilai-nilai adat dan spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hari suci ini tidak sekadar ritual keagamaan, melainkan juga momentum adat untuk memperkuat “pager” atau benteng diri dengan “wesi” yang dimaknai sebagai ilmu pengetahuan dan keteguhan spiritual.

Sejak fajar menyingsing, masyarakat Bali telah disibukkan dengan rangkaian prosesi adat, mulai dari menghaturkan canang sari di pekarangan rumah, hingga melaksanakan persembahyangan di sanggah kemulan dan pura-pura kahyangan. Nuansa sakral begitu terasa, berpadu dengan kearifan lokal yang tercermin dari tata upacara, busana adat, serta susunan banten yang sarat makna filosofis.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Pagerwesi yang jatuh setiap 210 hari sekali, tepat pada Rabu Kliwon Wuku Sinta dalam kalender Bali, memiliki posisi penting dalam sistem kepercayaan Hindu Bali. Hari ini diyakini sebagai saat untuk memuja kekuatan spiritual, memperkokoh batin, serta menjaga keseimbangan antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual).

Salah seorang warga Denpasar mengungkapkan bahwa Pagerwesi bukan hanya ritual, tetapi juga refleksi diri dalam kehidupan adat. “Ini momen untuk memperkuat diri secara rohani, agar tetap teguh dalam menjalani kehidupan, sesuai dengan ajaran leluhur,” ujarnya.

Selain di lingkungan keluarga, umat Hindu juga memadati pura-pura besar untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Aktivitas ini berlangsung dengan tertib, menjunjung tinggi kesucian tempat ibadah serta nilai-nilai adat yang dijaga dengan penuh disiplin.

Pemerintah daerah pun turut mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta melestarikan tradisi dan adat istiadat Bali sebagai identitas budaya yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Melalui perayaan Pagerwesi, umat Hindu di Bali diharapkan semakin memperkuat sraddha dan bhakti, menjaga harmoni dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta, serta terus merawat warisan adat sebagai benteng kehidupan di tengah arus modernisasi.

Reporter: Kadek Ariawan


Advertisement

Pos terkait