TANJUNGPINANG | Go Indonesia.Id _Tengah promosi besar-besaran sektor pariwisata, Kabupaten Natuna justru masih bergulat dengan persoalan mendasar: mahalnya harga tiket pesawat yang tak kunjung teratasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, sejauh mana keseriusan pemerintah daerah dalam membuka akses menuju salah satu destinasi unggulan di perbatasan Indonesia tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, mengakui bahwa ketergantungan terhadap transportasi udara menjadi titik lemah utama pengembangan wisata Natuna.
Hal itu disampaikannya saat diwawancarai pada 13 April 2026 di kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Dompak.
Selama akses masih didominasi jalur udara dengan harga tiket yang mahal, ini akan terus menjadi kendala. Wisatawan pasti berpikir ulang untuk datang,β ujarnya.
Namun, persoalan ini dinilai bukan sekadar soal geografis, melainkan juga menyangkut kebijakan dan keberanian pemerintah daerah dalam mengambil langkah strategis.
Hasan menegaskan, tanpa intervensi nyataβtermasuk dalam pengelolaan bandaraβharga tiket akan sulit ditekan.
Pemda harus berani ambil sikap. Tidak bisa hanya menunggu. Harus ada langkah konkret agar harga tiket lebih terjangkau,β tegasnya.
Di sisi lain, potensi wisata Natuna sebenarnya tidak diragukan. Kawasan Geopark Natuna, pantai eksotis, serta kekayaan bawah laut menjadi kekuatan besar yang seharusnya mampu menarik wisatawan dalam jumlah signifikan.
Namun hingga kini, potensi tersebut dinilai belum dikelola secara maksimal akibat terbatasnya akses.
Situasi ini memperlihatkan adanya ketimpangan antara potensi dan realisasi di lapangan. Promosi terus dilakukan, tetapi persoalan mendasar justru belum tersentuh secara serius.
Jika tidak segera dibenahi, Natuna berisiko hanya menjadi destinasi indah di atas kertasβ tanpa dampak nyata bagi perekonomian daerah.
Potensi sudah ada, tinggal bagaimana keberanian kebijakan untuk membukanya. Kalau tidak, ya akan begini terus,β tutup Hasan.
Reporter: Baharullazi




