Heru 84 Tahun Anak Pahlawan Proklamasi Pengetik Teks Proklamasi Hidupnya kini Sangat Prihatin Di Kontrakan Bekasi

0 447

BEKASI | Go Indonesia.id– Bapak Heru 84 Tahun Anak dari Pahlawan Proklamasi Pengetik Teks Proklamasi Hidupnya kini Sangat Prihatin Di Kontrakan Bekasi

PROKLAMASI

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta
Catatan:
1. Dibuat tahun 2605 dalam kalender Jepang, atau 1945 Masehi.
2. Ejaan yang dipakai masih ejaan lama.

Namun ada rumor anak pahlawan nasional pasti hidup berkecukupan hingga tua. Kisah Heru Baskoro, putra Sayuti Melik sang pengetik naskah Proklamasi, membantah anggapan itu tuturnya.

Di usia 84 tahun, Heru kini tinggal di rumah kontrakan sangat sederhana di Jalan Cipendawa Baru, Bojong Menteng, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Bersama istrinya, Treyzia Noviani, 65 tahun, ia menjalani hari-hari dengan keterbatasan.

Kontrakan bercat biru itu disewa seharga Rp560 ribu per bulan. Isinya hanya perabot seadanya. Menurut Treyzia, ini bukan tempat tinggal pertama mereka. Sejak kembali ke Indonesia pada 2024, keduanya sempat berpindah-pindah sebelum menetap di kontrakan ini sekitar empat bulan terakhir.

Dari Hidup Stabil di Luar Negeri ke Bekasi

Kondisi Heru dan Treyzia hari ini sangat kontras dengan kehidupan mereka beberapa dekade lalu. Sejak akhir 1990-an, pasangan ini menetap di Kanada.

Sebelum ke Kanada, Heru merupakan pemegang Green Card di Amerika Serikat. Ia pernah bekerja di perusahaan minyak di Texas. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan Trans Bakrie.

Keputusan pindah ke Kanada diambil karena pertimbangan kesehatan.

“Suami saya permanent resident Amerika sebelum kenal saya. Jadi dicoba ke Kanada, dan akhirnya pindah ke sana karena kesehatan lebih terjamin,” ujar Treyzia

Butuh Operasi Mata, Terkendala Biaya

Heru Baskoro lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1 Juni 1942. Ia adalah putra dari Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti, dua tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Saat ini kesehatan Heru menurun. Mata kanannya sudah tidak dapat melihat. Mata kirinya pun hanya memiliki sisa penglihatan terbatas.

Menurut Treyzia, Heru masih membutuhkan operasi lanjutan dengan kornea buatan. Prosedur itu belum tersedia di Indonesia. Operasi hanya bisa dilakukan di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman. Namun rencana itu terhenti karena biaya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, pasangan ini kini mengandalkan bantuan dari kerabat dan teman-teman.

Kisah Heru menjadi pengingat bahwa warisan perjuangan orang tua tidak otomatis menjamin kesejahteraan anak di hari tua. Di usia senja, putra seorang pengetik teks proklamasi itu masih berjuang untuk tempat tinggal dan kesehatan.

Reporter : Fira


Advertisement

Pos terkait