PUNCAK, PAPUA | Go Indonesia.idβ Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyoroti keberadaan aparat militer di Gereja Katolik Stasi Santa Sisilia, Kampung Wuloni, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, saat umat sedang melaksanakan ibadah misa pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Klaim tersebut disampaikan melalui siaran pers ke-III Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal 11 Agustus 2026. Dalam pernyataannya, TPNPB menyebut laporan tersebut diterima dari PIS TPNPB Kabupaten Puncak.
Menurut TPNPB, sejumlah aparat militer Indonesia disebut memasuki area gereja ketika umat Katolik sedang mengikuti misa Minggu pagi. Organisasi tersebut mengeklaim kehadiran aparat membuat sebagian warga merasa takut dan terganggu saat menjalankan ibadah.
TPNPB juga menyebut aparat berada di lokasi dengan alasan yang menurut mereka tidak jelas dan meminta foto serta video bersama warga. Namun, klaim mengenai tujuan kedatangan aparat, jumlah personel, maupun kondisi yang terjadi di dalam gereja tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
TPNPB Soroti Aktivitas Militer di Ruang Sipil
Melalui siaran pers tersebut, TPNPB meminta aparat keamanan menghentikan aktivitas yang mereka anggap memasuki ruang-ruang sipil, termasuk tempat ibadah.
Mereka juga menyerukan agar aparat menghormati kebebasan beragama serta prinsip-prinsip hukum humaniter internasional dalam menjalankan tugas di wilayah konflik.
TPNPB menilai keberadaan aparat bersenjata di sekitar tempat ibadah berpotensi menimbulkan rasa takut dan trauma bagi masyarakat sipil, terutama di Kabupaten Puncak yang selama ini menjadi salah satu wilayah terdampak konflik bersenjata.
βOperasi militer Indonesia hingga memasuki gereja-gereja hanya menambah ketakutan dan trauma bagi warga sipil selama konflik masih terjadi,β demikian pernyataan TPNPB dalam siaran persnya.
Perlu Klarifikasi dari Aparat dan Pihak Gereja
Hingga berita ini disusun, informasi tersebut masih merupakan klaim sepihak dari TPNPB. Belum terdapat keterangan independen dari pihak Gereja Katolik Santa Sisilia, Keuskupan Timika, aparat keamanan, maupun pemerintah daerah mengenai kronologi sebenarnya peristiwa pada 9 Agustus tersebut.
Karena itu, dugaan bahwa kehadiran aparat bertujuan menakut-nakuti umat maupun mengganggu pelaksanaan ibadah perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Keterangan dari pihak gereja juga penting untuk mengetahui apakah kehadiran aparat tersebut memang mengganggu jalannya misa, dalam konteks apa aparat berada di lokasi, serta bagaimana respons umat terhadap keberadaan mereka.
Persoalan tersebut menjadi sensitif mengingat Kabupaten Puncak merupakan salah satu wilayah yang mengalami dinamika keamanan dan konflik bersenjata. Dalam kondisi demikian, perlindungan masyarakat sipil dan kebebasan menjalankan ibadah menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian seluruh pihak.
TPNPB melalui siaran pers yang ditandatangani juru bicaranya, Sebby Sambom, kembali meminta aparat keamanan menghormati ruang sipil dan tempat ibadah.
Pernyataan tersebut juga mencantumkan nama Jenderal Goliath Tabuni, Letnan Jenderal Melkisedek Awom, Mayor Jenderal Terianus Satto, dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen dalam struktur penanggung jawab Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM.
Catatan redaksi: Informasi mengenai dugaan aparat memasuki Gereja Katolik Stasi Santa Sisilia Wuloni saat misa masih berdasarkan siaran pers TPNPB dan belum terverifikasi secara independen. Konfirmasi dari pihak gereja, aparat keamanan, dan pemerintah setempat diperlukan untuk memastikan kronologi serta konteks kejadian.
Agustinus Selegani/Jurnalis Go Indonesia






