Koperasi HKTI Gandeng Koperasi MSB, Batok Kelapa Lampung Berpotensi Jadi Penggerak Ekonomi Baru

IMG 20261017 WA0166

BANDAR LAMPUNGย  | Go Indonesia.Id โ€“ Potensi komoditas kelapa di Provinsi Lampung terus dikembangkan melalui kemitraan usaha yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Koperasi Produsen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Kop-HKTI) bersama Koperasi Produsen Mitra Santri Berkarya (MSB) menjalin kerja sama penyerapan batok kelapa dengan target 5.000 ton per bulan.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung produksi arang batok kelapa hingga 1.800 ton per bulan sekaligus membuka peluang usaha bagi petani, pedagang, dan masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok komoditas kelapa.

Perjanjian kerja sama ditandatangani Ketua Kop-HKTI, Diana Widiastuti, dan Ketua Koperasi Produsen MSB, KH. Ahmad Romli Latif, di Swiss-Belhotel, Jalan Rasuna Said Nomor 18, Teluk Betung, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kepala Regional Sumatera Koperasi HKTI, Syamsul, S.H., mengatakan kemitraan ini menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan potensi komoditas kelapa melalui pengembangan usaha pengolahan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, target penyerapan bahan baku dalam jumlah besar perlu didukung sistem pengumpulan dan distribusi yang terorganisasi. Karena itu, keterlibatan masyarakat dari berbagai daerah di Lampung menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan kerja sama.

Serap Ribuan Ton, Perluas Keterlibatan Masyarakat
Target penyerapan 5.000 ton batok kelapa setiap bulan membuka peluang pengembangan jaringan pemasok yang lebih luas di Provinsi Lampung.

Kebutuhan tersebut dapat mendorong tumbuhnya kegiatan usaha di tingkat masyarakat, mulai dari pengumpulan batok kelapa, perdagangan bahan baku, hingga penyediaan jasa transportasi menuju tempat pengolahan.
Selama ini, batok kelapa memiliki potensi pemanfaatan yang cukup besar sebagai bahan baku arang. Melalui pengolahan yang tepat, material tersebut dapat menghasilkan produk dengan nilai jual yang berbeda dibandingkan ketika hanya diperlakukan sebagai hasil samping komoditas kelapa.
Kerja sama Kop-HKTI dan MSB diharapkan mampu menghubungkan potensi bahan baku di daerah dengan kebutuhan produksi secara lebih terstruktur.

Sementara itu, target produksi arang sebanyak 1.800 ton per bulan menunjukkan rencana pengembangan kegiatan pengolahan yang membutuhkan dukungan pasokan secara konsisten.
Pencapaian target tersebut akan bergantung pada ketersediaan bahan baku, kesiapan fasilitas produksi, kapasitas pengolahan, dan kelancaran distribusi.

Apabila berjalan sesuai rencana, kemitraan ini berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru di wilayah penghasil kelapa, sekaligus memperluas kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam usaha berbasis komoditas lokal.

Syamsul: Potensi Kelapa Harus Memberikan Manfaat bagi Petani

Syamsul menegaskan, kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan bahan baku industri, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha komoditas kelapa.
Ia menilai pengembangan potensi daerah perlu disertai pola kemitraan yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan usaha.

โ€œDengan adanya kerja sama ini, kami berharap dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha komoditas kelapa. Kami ingin potensi kelapa di Lampung dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga memberikan nilai tambah serta meningkatkan pendapatan masyarakat,โ€ ungkap Syamsul.

Ia berharap kolaborasi tersebut menjadi awal terbentuknya ekosistem usaha yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengolahan menjadi produk bernilai tambah.

Menurutnya, keberadaan kebutuhan pasar yang berkelanjutan dapat mendorong masyarakat memandang batok kelapa sebagai komoditas ekonomi yang layak dikembangkan.
Dengan adanya peluang penyerapan dalam jumlah besar, masyarakat juga berkesempatan membangun usaha pengumpulan dan perdagangan batok kelapa secara lebih terorganisasi.
Namun, realisasi manfaat tersebut membutuhkan kepastian mekanisme pembelian, harga yang wajar, transparansi transaksi, serta kelancaran pembayaran kepada para pemasok.
Aspek tersebut penting agar kerja sama tidak hanya mendukung kegiatan produksi, tetapi juga memberikan manfaat yang proporsional bagi masyarakat di sepanjang rantai pasok.

Perkuat Hilirisasi Komoditas Kelapa di Lampung
Kerja sama Kop-HKTI dan MSB turut mencerminkan upaya mendorong hilirisasi komoditas kelapa melalui pengembangan industri pengolahan.
Hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas dengan mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi lebih tinggi.

Dalam pelaksanaannya, koperasi diharapkan berperan sebagai penghubung antara masyarakat pemasok dan kebutuhan industri, sehingga potensi produksi daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain memperluas peluang usaha, pengembangan rantai pasok batok kelapa berpotensi menciptakan kebutuhan tenaga kerja pada sektor pengumpulan, pengangkutan, distribusi, dan pengolahan.

Dalam kegiatan penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut, Ketua Kop-HKTI Diana Widiastuti didampingi Sekretaris Kop-HKTI Mario Viera serta Kepala Regional Sumatera Koperasi HKTI Syamsul, S.H.
Melalui kemitraan ini, kedua koperasi berharap pengembangan usaha batok kelapa dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Lampung.

Dengan target penyerapan 5.000 ton batok kelapa dan produksi 1.800 ton arang per bulan, kerja sama tersebut diharapkan memperkuat rantai pasok komoditas kelapa, memperluas peluang usaha masyarakat, serta mendorong peningkatan nilai tambah hasil perkebunan di daerah.
Keberhasilan pelaksanaannya nantinya akan ditentukan oleh kemampuan para pihak menjaga kesinambungan pasokan, memenuhi kebutuhan produksi, dan membangun kemitraan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.

Redaksi


Advertisement

Pos terkait