Dari Anak Kampung Kiyakui Menjadi Mahasiswa di Tanah Jawa, Penias Ndumpa: Perjalanan Panjang Menempa Jiwa Kepemimpinan

1d 66

PAPUA TENGAH | Go Indonesia.id — Perjalanan hidup seseorang tidak selalu dimulai dari kemudahan. Ada yang tumbuh dalam keluarga berkecukupan, tetapi ada pula yang harus menghadapi kehilangan, keterbatasan, dan perjuangan sejak usia dini.

Kisah Penias T. Ndumpa, yang juga dikenal sebagai Penias Tumipa atau Sony, menjadi gambaran tentang perjuangan seorang anak Papua yang terus melangkah di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Lahir di Kiyakui pada 5 Juli 2006, Penias tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan arti kebersamaan dan iman kepada Tuhan. Ayahnya, Lukas Ndumpa, dan ibunya, Debora Dugupa, merupakan sosok penting dalam perjalanan awal turut dipercaya menjadi Ketua Panitia Pelaksana Natal dan Tahun Baru IPMAPAPARA Malang periode kegiatan 2025/2026.

Tanggung jawab kepanitiaan itu menjadi ruang belajar untuk mengoordinasikan kegiatan, membangun kerja sama, dan menjaga persaudaraan mahasiswa Papua di tanah rantau.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses kepemimpinan dapat tumbuh melalui berbagai tanggung jawab, mulai dari mengurus administrasi hingga mengoordinasikan kegiatan bersama.

Kembali ke Malang, Melanjutkan Perjuangan di Perguruan Tinggi
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Negeri 9 Malang, Penias pulang ke Papua pada Juli, sebagaimana dituturkan dalam kisahnya. Ia kemudian mengikuti seleksi beasiswa afirmasi ADik untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Sekali lagi, ia mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Malang dan melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM).
Saat ini, Penias menempuh pendidikan sarjana pada bidang Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang melalui jalur afirmasi pendidikan tinggi bagi mahasiswa Papua, berdasarkan keterangan yang disampaikannya.

Perjalanan tersebut bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan tahap baru yang menuntut kedisiplinan, kemauan belajar, dan tanggung jawab yang lebih besar.
Di tengah kehidupan akademik, ia tetap membawa pengalaman masa kecil, perjalanan pendidikan, serta keterlibatannya dalam organisasi sebagai bekal untuk menata masa depan.

Kepemimpinan Dibentuk oleh Proses, Bukan Sekadar Jabatan
Jika melihat perjalanan Penias, terdapat sejumlah pengalaman yang menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya.
Pengalaman memimpin IPSPJ memberinya ruang untuk belajar berorganisasi dan berkomunikasi. Keterlibatan dalam kepengurusan Afirmasi Universitas Negeri Malang memperkenalkannya pada tanggung jawab administrasi.

Sementara itu, pengalaman menjadi ketua panitia Natal dan Tahun Baru mengajarkannya tentang koordinasi, kerja sama, dan pentingnya menjaga kebersamaan.

Meski setiap pengalaman memiliki tantangan tersendiri, semuanyadapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan diri.

Kepemimpinan yang kuat tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari cara seseorang menjalankan tanggung jawab, menghormati orang lain, menyelesaikan persoalan, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Karena itu, perjalanan Penias dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua bahwa kesempatan untuk berkembang dapat diperjuangkan melalui pendidikan, pengalaman organisasi, dan kemauan untuk terus belajar.

Tiga Pegangan Hidup Penias Ndumpa
Dalam kisah perjalanan hidupnya, Penias menyampaikan tiga prinsip yang ingin terus dipegang.
Pertama, jangan pernah melupakan Tuhan. Baginya, iman menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi kehilangan, kegagalan, dan ketidakpastian.

Kedua, ingat asal-usul dan tujuan hidup. Pengalaman sederhana sekalipun dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Ketiga, terus membangun pengalaman, keberanian, dan kreativitas. Pengalaman membentuk karakter, keberanian membuka jalan menuju kesempatan baru, sedangkan kreativitas membantu seseorang terus bertumbuh dan mencari solusi.

Ketiga prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga keteguhan hati, kemauan belajar, dan kesediaan memperbaiki diri.
Anak Kiyakui yang Terus Melangkah

Kisah Penias Ndumpa bukan semata-mata tentang perjalanan seorang anak Papua menuju bangku kuliah di Jawa. Lebih dari itu, kisahnya berbicara tentang ketahanan menghadapi kehilangan, keberanian meninggalkan zona nyaman, dan upaya membangun masa depan melalui pendidikan serta pengalaman organisasi.

Ia masih berada dalam proses belajar. Masih ada banyak tantangan yang perlu dihadapi dan banyak hal yang harus dipelajari. Namun, perjalanan yang telah dilaluinya menjadi bagian dari pengalaman yang dapat membentuk kedewasaan dan tanggung jawabnya pada masa mendatang.

Penias menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendampinginya. Ia juga mengajak siapa pun untuk saling mengenal, menghargai, dan melengkapi satu sama lain dalam semangat persaudaraan.

“Saya Penias Tumipa atau Ndumpa, anak Kiyakui, Paniai, Waropen. Saya terus melangkah dan berjuang dengan keyakinan bahwa Tuhan memimpin perjalanan hidup saya,” demikian pesan yang terangkum dari kisahnya.

Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, tetapi juga oleh kesungguhan dalam belajar, keberanian menghadapi tantangan, dan tanggung jawab terhadap setiap kesempatan yang diberikan.

Dari Kiyakui, Penias melangkah ke tanah Jawa. Perjalanannya masih panjang, tetapi setiap tahap yang dilalui telah menjadi bagian dari kisah perjuangan yang patut dikenang.

Agustinus Selegani/Jurnalis Kaperwil Go Indonesia.id Wilayah Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah


Advertisement

Pos terkait