DENPASAR | Go Indonesia.Id_ Sehari setelah merayakan Hari Suci Saraswati, umat Hindu melaksanakan prosesi Banyu Pinaruh (pembersihan diri) yang berpusat pada sumber-sumber air, seperti muara, pantai, maupun mata air lainnya. Ritual sakral ini dimanfaatkan oleh sebagian besar warga Denpasar dan sekitarnya untuk mendatangi kawasan pesisir pantai, Minggu (1/11/2026).
Sebelum melaksanakan prosesi mandi pembersihan diri, umat Hindu mengawali ritual Banyu Pinaruh dengan menghaturkan sesajen (banten) serta bersembahyang bersama di tepi pantai terlebih dahulu.
Kawasan Pantai Sanur, khususnya Pantai Mertasari di wilayah Denpasar Selatan, tampak dipadati oleh ribuan warga sejak pagi hari. Selain menjalankan ritual, masyarakat juga menikmati momen rekreasi bersama keluarga. Suasana semakin semarak karena para pengunjung tidak hanya mandi di laut, tetapi juga menikmati permainan kano. Sementara itu, anak-anak tampak gembira bermain air menggunakan pelampung berbentuk bebek agar bisa mengapung, yang banyak disewakan oleh para pengelola jasa wisata di pantai.
Membludaknya kunjungan masyarakat ini membuat kawasan sekitar pantai mengalami lonjakan pengunjung yang drastis. Areal parkir di Jalan Hangtuah sebagai salah satu pintu masuk utama menuju Pantai Sanur bahkan sampai tidak mampu menampung puluhan ribu warga yang datang silih berganti. Akibat keterbatasan kantong parkir, sebagian warga yang tidak dapat mengakses masuk ke area Pantai Sanur akhirnya memilih alternatif mandi di Pantai Segara dan Pantai Sindu yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Hangtuah. Di kedua pantai tersebut, kantong parkir kendaraan juga tampak meluber hingga sempat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas.
Salah seorang warga asal Blahkiuh, Kabupaten Badung, Jro Dewi, mengungkapkan bahwa keluarganya selalu rutin memilih Pantai Sanur untuk melaksanakan tradisi Banyu Pinaruh sekaligus berlibur bersama anak-anak. Meski sempat diguyur hujan ringan dan kondisi air laut di Pantai Mertasari dalam keadaan surut (buras), hal tersebut tidak menyurutkan niat dan semangat warga untuk tetap khusyuk menjalankan rangkaian prosesi dengan suasana tetap ceria.
Berdasarkan pantauan kontributor media di lapangan, Jro Widhi, suasana pagi di sekitar Pantai Mertasari diwarnai oleh berbagai aktivitas persembahyangan bersama. Bahkan, beberapa kelompok umat tampak menghadirkan pemangku dan sulinggih di tepi pantai untuk memimpin jalannya ritual Banyu Pinaruh dengan khidmat.
Secara etimologis, Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang berarti air dan pinaruh (atau pengeruwuh) yang berarti pengetahuan. Prosesi ini sarat makna filosofis untuk membersihkan kegelapan pikiran (mala) yang melekat pada diri manusia, yang lazim dilaksanakan pada pagi hari.
Menariknya, kemeriahan suasana Banyu Pinaruh tahun ini tidak hanya dipadati oleh umat Hindu yang melaksanakan ritual pembersihan diri saja, tetapi juga diramaikan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan umat lain yang turut menikmati indahnya pemandangan matahari terbit serta keramaian di sepanjang garis Pantai Sanur.
Perayaan ini diharapkan mampu membawa energi positif, kedamaian, serta pembersihan lahir dan batin bagi seluruh umat di Bali maupun di Indonesia secara umum.
(JW)
Umat Hindu Bali Jalankan Tradisi Banyu Pinaruh di Pantai Sanur Pasca-Hari Suci Saraswati







