Gubernur Koster: Pertanian Bali Jangan Cuma Jadi Objek Wisata, Petani Harus Sejahtera

IMG 20260703 WA0138 scaled

DENPASAR | Go Indonesia.Id _Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan sektor pertanian harus berjalan beriringan dengan pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, petani Bali tidak boleh hanya menjadi penjaga bentang alam yang dinikmati wisatawan, tetapi juga harus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7/2026).

Bacaan Lainnya

Advertisement

“Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian,” kata Gubernur Koster.

Gubernur Koster menilai, selama ini banyak kawasan pertanian di Bali menjadi daya tarik wisata alam. Namun, manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata itu belum selalu dirasakan secara maksimal oleh petani sebagai pemilik lahan dan penjaga kawasan pertanian.

Menurut Gubernur Koster, kawasan pertanian tidak hanya berfungsi sebagai penyangga ketahanan pangan, tetapi juga memiliki nilai besar dalam pengembangan pariwisata Bali. Karena itu, konsep pariwisata berbasis pertanian dan budaya harus dirancang secara lebih adil.

“Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil, apalagi kebutuhan hidup terus meningkat,” ujarnya.

Gubernur Koster menegaskan petani harus ditempatkan sebagai pelaku utama dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian. Ia tidak ingin petani hanya menjadi pihak yang mempertahankan sawah, subak, dan lanskap hijau Bali, sementara keuntungan ekonominya lebih banyak dinikmati sektor lain.

Dalam audiensi tersebut, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang Koster untuk menjadi keynote speaker pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang akan digelar pada 23 Juli 2026.

Kegiatan itu merupakan bagian dari forum yang meliputi seminar nasional, lokakarya, serta berbagai perlombaan mahasiswa. Sekitar 90 dekan fakultas pertanian beserta jajaran dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur diperkirakan hadir. Total peserta diperkirakan mencapai sekitar 200 orang.

Sudiarta mengatakan forum tersebut mengangkat tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya. Tema itu dinilai sangat relevan dengan karakter Bali yang memiliki sistem pertanian kuat berbasis tradisi, budaya, dan kearifan lokal.

“Konsep budaya yang diintegrasikan dengan pertanian dan pariwisata seperti di Bali menjadi sangat penting. Karena itu kami berharap Bapak Gubernur berkenan menjadi keynote speaker,” kata Sudiarta.

Menanggapi undangan tersebut, Gubernur Koster menyebut Bali memiliki kekuatan yang tidak dimiliki daerah lain. Menurutnya, sistem pertanian Bali menyatu dengan budaya, tradisi, upacara, dan kearifan lokal masyarakat.

Ia mengatakan aktivitas bertani di Bali tidak sekadar menanam, mengairi, lalu memanen. Dalam setiap prosesnya, terdapat nilai spiritual dan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

“Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali,” ucapnya.

Gubernur Koster juga mengungkapkan konsep pertanian Bali pernah dipresentasikannya dalam forum di London. Salah satunya terkait Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang disebutnya menjadi regulasi penting dalam memperkuat arah pembangunan pertanian Bali.

Menurut Gubernur Koster, kekayaan tradisi pertanian Bali harus terus dihidupkan sebagai identitas daerah sekaligus daya tarik internasional. Ia meyakini Bali dapat menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal.

“Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,” kata Gubernur Koster.

Reporter: Kadek


Advertisement

Pos terkait