Pulau Kokoya Jadi Lokasi KKL Mahasiswa FPIK UNIPAS, Ini Pesan Warga

AA 42 e1789912699766

MOROTAI | Go Indonesia.id β€” Pulau Kokoya bukan sekadar daratan kecil di tengah laut. Di sana ada lingkungan yang menjadi ruang hidup, laut tempat masyarakat mencari nafkah, serta warga yang bertahun-tahun menjaga kehidupannya.

Di tempat itulah mahasiswa baru Generasi Bahari Angkatan 26 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pasifik (UNIPAS) Pulau Morotai menjalani Kuliah Kenal Lingkungan (KKL), 18–20 September 2026.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Mengusung tema β€œSave Our Sea, Save Our Future, Menjaga Laut Kita, Menjaga Masa Depan Kita,” kegiatan tahunan tersebut membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas untuk mengenal alam sekaligus mendengar langsung cerita masyarakat.

Salah satunya datang dari Rusmin, warga yang telah menetap di Pulau Kokoya sejak sekitar 2001.

Dalam pertemuan dengan mahasiswa, Rusmin menyampaikan keresahannya mengenai aktivitas sebagian orang yang datang menggunakan perahu fiber untuk memancing sekaligus mengambil pasir.

Menurut dia, pasir yang diambil memang terlihat sedikit karena menggunakan karung. Namun, aktivitas yang berlangsung berulang tetap perlu diperhatikan karena menyangkut lingkungan pulau dalam jangka panjang.

β€œPulau Kokoya bukanlah pulau kosong dan tidak bernilai.”

Bagi Rusmin, persoalannya bukan sekadar banyak atau sedikit pasir yang dibawa. Pulau tersebut memiliki lingkungan dan masyarakat yang perlu dihargai.

Ia juga menceritakan pernah hampir terlibat konflik dengan orang yang mengambil pasir. Alasan bahwa pasir hanya diambil menggunakan karung, menurut Rusmin, tidak mengubah persoalan yang ia lihat.

Cerita itu menjadi pelajaran langsung bagi mahasiswa. Mereka belajar bahwa lingkungan bukan hanya materi akademik, tetapi ruang tempat manusia hidup dan menggantungkan masa depan.

Pada refleksi malam puncak KKL, mahasiswa diajak melihat kembali perjuangan masyarakat. Nelayan tetap melaut meski hasil tangkapan belum tentu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Petani menghadapi kekeringan dan ketidakpastian harga hasil pertanian.

Pesan tentang menghargai lingkungan kemudian ditegaskan Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) FPIK UNIPAS, Asy’ari.

β€œKelak kalau panitianya Angkatan 26, di mana pun lokasinya, jangan pernah mengambil hal-hal yang bukan milik kita,” pesan Asy’ari.

KKL ditutup pada Minggu sekitar pukul 16.00 WIT dan diakhiri dengan foto bersama mahasiswa Generasi Bahari ’26 dan Rusmin.

Dari Kokoya, mahasiswa membawa pulang pelajaran sederhana: laut bukan sekadar sumber daya, pasir bukan sekadar material, dan pulau bukan sekadar titik di peta. Semuanya adalah bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dijaga.

SAVE OUR SEA.
SAVE OUR FUTURE.

Menjaga Laut Kita, Menjaga Masa Depan Kita.

Mir | Jurnalis Go Indonesia.id


Advertisement

Pos terkait