TANJAB BARAT | Go Indonesia.id — Kehidupan petani kecil di wilayah pelosok desa masih dihadapkan dengan berbagai persoalan ekonomi yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian serius.
Salah satunya dirasakan oleh warga Parit Ilahi RT 08, Desa Lumahan, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
Aktivitas sehari-hari masyarakat setempat mayoritas bergantung pada sektor perkebunan.
Mulai dari membersihkan lahan, menebar pupuk, hingga menyemprot rumput menjadi rutinitas yang dilakukan demi mempertahankan hasil kebun agar tetap produktif.
Seorang warga sekaligus narasumber, Apriandi, mengatakan dirinya menggantungkan penghasilan dari hasil perkebunan pinang serta tanaman selingan kelapa sawit yang masih baru ditanam.
Kondisi tersebut membuat penghasilan keluarga belum sepenuhnya stabil.
Menurutnya, luas kebun yang dimiliki tergolong kecil, yakni sekitar buka 25 depa dan lanjut 150 depa.
Dari lahan itulah dirinya berupaya memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.
Apriandi mengaku harus bekerja keras demi menghidupi dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas II SMPN, sementara sang istri berperan sebagai ibu rumah tangga.
“Keadaan ekonomi kami memang serba pas-pasan.
Hasil kebun inilah yang menjadi harapan utama untuk kebutuhan keluarga dan pendidikan anak,” ujarnya.
Namun di tengah perjuangan tersebut, para petani kembali dihadapkan dengan persoalan harga hasil panen pinang yang dinilai tidak menentu dan sering merugikan petani kecil.
Ia menilai, harga pinang justru mengalami penurunan ketika musim panen tiba.
Sementara sebelum masa panen, harga komoditas tersebut cenderung tinggi di pasaran.
“Kenapa setiap hasil pinang selesai dipanen harganya selalu murah, tetapi sebelum panen harganya tinggi,” keluhnya.
Selain harga hasil panen yang tidak stabil, Apriandi juga menyoroti tingginya harga kebutuhan pokok sehari-hari yang dinilai tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat kecil.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memberatkan kehidupan petani yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil perkebunan tradisional.
Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi masyarakat pedesaan, khususnya petani kecil yang selama ini berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah situasi ekonomi yang sulit.
“Harapan kami pemerintah lebih peduli terhadap kekurangan dan kebutuhan masyarakat kecil,” tegasnya.
Dirinya menilai perhatian terhadap sektor perkebunan rakyat sangat penting, terutama dalam menjaga kestabilan harga hasil panen agar petani tidak terus mengalami kerugian.
Selain itu, dukungan terhadap kebutuhan dasar masyarakat juga dianggap perlu agar kesejahteraan warga desa dapat meningkat secara bertahap.
Masyarakat berharap adanya solusi nyata dari pihak terkait untuk membantu petani memperoleh harga jual yang lebih layak dan stabil di pasaran.
Dengan kondisi ekonomi yang masih terbatas, para petani kecil di wilayah tersebut tetap berupaya bertahan dan bekerja keras demi masa depan keluarga mereka.
Narasumber: Apriandi
Jurnalis: Apriandi






