BULELENG, BALI | Go Indonesia.id _Masa depan Buleleng tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat masyarakat bisa menuju Denpasar atau Badung. Pembangunan Buleleng harus diarahkan pada terciptanya kemandirian ekonomi, budaya, sosial, hingga politik, sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada pusat-pusat pertumbuhan di Bali Selatan.
Pandangan tersebut disampaikan Anak Agung Ngurah Ugrasena, putra asli Buleleng, yang menilai pembangunan infrastruktur di Bali Utara harus dilihat dalam perspektif yang lebih besar.
Menurutnya, pembangunan jalan, kereta api maupun shortcut yang mempercepat konektivitas Buleleng-Denpasar memang penting. Namun, jika seluruh pembangunan hanya diarahkan agar masyarakat Buleleng semakin mudah menuju Bali Selatan, maka cara pandang tersebut dinilai keliru.
โLagi-lagi seolah-olah Buleleng membutuhkan Badung atau Denpasar. Sangat naif kalau pembangunan hanya dimaknai sebagai bagaimana Buleleng lebih cepat menuju Bali Selatan,โ ujar Ugrasena.
Ia menegaskan, persoalan paling mendasar yang dihadapi Buleleng justru berada di dalam daerah itu sendiri, terutama menyangkut masa depan generasi muda.
Menurut Ugrasena, banyak anak muda Buleleng terpaksa meninggalkan daerah asal karena kesulitan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. Mereka kemudian memilih mencari pekerjaan ke Denpasar, Badung, bahkan hingga bekerja ke luar negeri.
โPersoalan riil Buleleng, Bali Utara maupun Bali Timur adalah banyaknya anak-anak muda generasi produktif yang pergi meninggalkan akar budayanya karena kesulitan mencari nafkah yang layak di daerah sendiri,โ katanya.
Ia menyebut, rata-rata sekitar 3.000 tenaga kerja muda produktif setiap tahun meninggalkan Buleleng untuk mencari penghidupan di luar daerah.
Angka tersebut, menurutnya, seharusnya menjadi alarm bagi para pemimpin daerah maupun pemerintah provinsi untuk memikirkan strategi pembangunan yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus mempertahankan generasi muda agar tetap tinggal dan membangun daerahnya.
Bandara Bukan Sekadar Infrastruktur Transportasi
Dalam konteks tersebut, Ugrasena memandang kehadiran Bandara Internasional Bali Utara di Buleleng bukan semata-mata sebagai proyek infrastruktur transportasi.
Ia melihat bandara internasional sebagai pintu gerbang pembangunan Buleleng dan instrumen untuk membuka konektivitas ekonomi langsung antara Bali Utara dengan dunia internasional.
โSebagai orang asli Buleleng, saya membutuhkan adanya bandara internasional. Dengan kehadiran Bandara Bali Utara, saya meyakini ini bisa menjadi pintu gerbang pembangunan Buleleng,โ ujarnya.
Menurutnya, Buleleng memiliki modal yang sangat besar untuk berkembang. Wilayahnya luas, memiliki kekayaan alam, seni, adat, budaya, tradisi, kuliner serta berbagai potensi wisata yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri.
Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat lokal.
โBuleleng memiliki segalanya. Sumber daya alam yang indah, budaya, adat, seni tradisional, kuliner dan berbagai keunikan yang diwariskan sejak zaman dahulu. Tetapi kenapa Buleleng masih tertinggal? Salah satu persoalannya adalah anak-anak muda produktif tidak tinggal di Buleleng,โ katanya.
Wisatawan Justru Bisa Menghidupkan Kembali Budaya Lokal
Ugrasena juga menepis anggapan bahwa masuknya wisatawan dalam jumlah besar selalu menjadi ancaman terhadap budaya lokal.
Sebaliknya, ia menilai kehadiran wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik dapat menjadi kekuatan untuk menghidupkan kembali destinasi wisata sekaligus mendorong kebangkitan adat dan budaya lokal.
Menurutnya, jika dikelola dengan baik, pariwisata tidak harus menggerus identitas Buleleng. Justru budaya lokal dapat menjadi daya tarik utama.
โKehadiran wisatawan justru bisa menjadi kekuatan kebangkitan adat dan budaya khas Buleleng. Di berbagai daerah di dunia, pariwisata mampu menggairahkan kembali destinasi, budaya lokal dan ekonomi masyarakat,โ jelasnya.
Dengan berkembangnya sektor pariwisata, ia berharap lapangan kerja baru akan tumbuh di Buleleng. Anak-anak muda tidak lagi harus meninggalkan kampung halaman hanya untuk mencari pekerjaan.
โAnak-anak muda kembali ke kampung halamannya di Buleleng. Mereka kembali kepada jati dirinya sendiri. Kemandirian budaya menjadi penting untuk menjaga warisan leluhur,โ tegasnya.
Pemimpin Diminta Berani Mengubah Cara Pandang
Ugrasena mempertanyakan apakah persoalan migrasi tenaga kerja muda dari Buleleng tersebut sudah menjadi perhatian serius para pemimpin.
Ia mendorong gubernur, bupati, para penglingsir, tokoh masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama membicarakan arah masa depan Buleleng.
โAdakah para pemimpin, gubernur dan bupati memikirkan persoalan ini?โ tanyanya.
Ia mengajak seluruh pihak menghilangkan ego sektoral maupun ego sentris dalam melihat masa depan Bali Utara.
Menurutnya, pembangunan Buleleng tidak boleh sekadar menjadi upaya mempercepat akses masyarakat menuju Denpasar. Buleleng harus dibangun agar mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan kekuatan dan identitasnya sendiri.
โMari kita kaji. Bila perlu kita duduk bersama. Hilangkan ego sentris kita. Saatnya Buleleng harus bangkit kuat dan mengembalikan Buleleng sebagai kekuatan sejati seperti masa lalu,โ katanya.
Ia menegaskan, Singaraja dan Buleleng memiliki sejarah, karakter dan jati diri sendiri yang harus dipertahankan sekaligus dikembangkan dalam menghadapi masa depan.
โBuleleng Singaraja adalah daerah sendiri yang memiliki jati dirinya sendiri,โ pungkasnya.
Astungkara.
Salam,
Anak Agung Ngurah Ugrasena
Kadek/Jurnalis Go Indonesia







