Harga Coklat Anjlok, Perekonomian Petani Desa Du Kian Terpuruk

IMG 20260520 WA0530

SIKKA ,LELA | Go Indonesia.Id _Penurunan harga coklat di tingkat petani di Desa Du, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menjadi kendala utama bagi perekonomian masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani coklat. Turunnya harga jual coklat dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan pendapatan petani menurun drastis sehingga kebutuhan hidup sehari-hari semakin sulit dipenuhi.
โ€Ž
โ€ŽBerdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani coklat , Irwan Supriyadi, penurunan harga coklat dipengaruhi oleh turunnya harga pasar, kualitas biji coklat yang tidak stabil, serta berkurangnya permintaan dari pembeli. Kondisi tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar bagi para petani karena hasil panen yang dijual tidak lagi mampu memberikan keuntungan yang cukup.
โ€Ž
โ€Žโ€œKami para petani yang paling merasakan dampaknya karena penghasilan kami bergantung pada hasil kakao,โ€ ujar Irwan saat ditemui di lokasi perkebunannya, Minggu (20/5/2026).
โ€Ž
โ€ŽPara petani mengaku penurunan harga coklat mulai dirasakan secara signifikan sejak awal tahun 2026. Jika pada tahun sebelumnya harga coklat mencapai Rp100.000 ribu per kilogram, kini harga tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp40.000 ribu per kilogram.
โ€Ž
โ€Žโ€œTahun lalu harga coklat satu kilogram mencapai seratus ribu rupiah, tetapi sekarang harganya turun drastis menjadi empat puluh ribu rupiah per kilogram saja,โ€ tambah Irwan.
โ€Ž
โ€ŽSebagai salah satu wilayah penghasil coklat di Kecamatan Lela, masyarakat Desa Du sangat bergantung pada hasil perkebunan coklat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penurunan harga coklat secara langsung memengaruhi tingkat kesejahteraan petani dan kondisi ekonomi keluarga mereka.
โ€Ž
โ€ŽMeski menghadapi situasi yang sulit, para petani tetap berusaha merawat tanaman coklat agar menghasilkan buah yang berkualitas. Upaya tersebut dilakukan dengan membersihkan buah yang rusak, memangkas ranting, serta memberikan pupuk secara rutin.
โ€Ž
โ€Žโ€œWalaupun harga coklat menurun, kami tetap berusaha menjaga dan merawat tanaman coklat agar menghasilkan buah yang berkualitas,โ€ jelas Irwan.
โ€Ž
โ€ŽNamun, dalam proses perawatan tersebut para petani juga menghadapi berbagai kendala, seperti mahalnya harga pupuk dan serangan hama tanaman yang semakin meningkatkan biaya produksi.
โ€Ž
โ€Žโ€œHarga pupuk mahal dan hama sering menyerang tanaman, sehingga biaya perawatan yang kami keluarkan semakin besar,โ€ ungkapnya.
โ€Ž
โ€ŽDengan kondisi harga coklat yang terus menurun, para petani berharap adanya perhatian dan solusi dari pemerintah serta pihak terkait agar kestabilan harga coklat dapat kembali terjaga. Mereka juga berharap kesejahteraan petani di Desa Du dapat kembali membaik sehingga perekonomian masyarakat menjadi lebih stabil dan sejahtera.
โ€Ž
Reporter: Konstantin


Advertisement

Pos terkait