BANYUWANGI | Go Indonesia.id — Kepercayaan tak mengenal jarak. Inilah yang nyata terlihat di kediaman Gus Jagat Satria, di Desa Bimo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Praktisi pengobatan tradisional yang dikenal tulus dan tulus ini kini semakin diakui secara nasional, ribuan kilometer pun ditempuh pasien demi berikhtiar kesembuhan.
Tak lagi hanya dari Banyuwangi, Situbondo, maupun Jember. Setiap hari kediamannya dipenuhi orang-orang yang datang jauh-jauh dari Madura, Jakarta, Bandung, Kalimantan, hingga Bali. Semua datang dengan harapan yang sama: berikhtiar sembuh melalui pengobatan tradisional yang telah membuktikan keampuhannya.
“Jauh-jauh dari Jakarta rela ke Banyuwangi, karena sudah banyak saudara yang cocok di sini,” ungkap salah seorang pasien dari Ibu Kota, yang tak segan menempuh perjalanan jauh.
Bagi Gus Jagat Satria, keberhasilan ini bukan karena dirinya, melainkan semata-mata izin Allah SWT. Beliau selalu berpesan dengan rendah hati: “Kesembuhan datangnya dari Allah SWT. Manusia hanya wajib berikhtiar dan jangan lupa bersedekah.”
Semangat keadilan dan keramahan beliau tak pernah berubah. “Siapapun pasiennya, dari manapun asalnya — Jakarta, Bandung, Kalimantan, Bali — semua saya layani sama, tidak membeda-bedakan. Yang penting niat baik dan saling mendoakan,” tegas Gus Jagat.
Kehadirannya bukan sekadar membuka jalan kesembuhan, tetapi juga membawa berkah yang meluas. Pasien yang sembuh kembali membawa sanak saudaranya, menjadikan Gus Jagat Satria sebagai ikon pengobatan tradisional yang membanggakan Wongsorejo. Lebih dari itu, kedatangannya turut menggerakkan ekonomi warga sekitar. Lokasi yang persis di tepi pantai bahkan menjadi daya tarik tersendiri — pasien tak sekadar berikhtiar sehat, tetapi juga bisa menikmati keindahan alam Banyuwangi yang menenangkan jiwa.
Pintu kediaman Gus Jagat Satria di Desa Bimo selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berikhtiar menuju kesehatan yang lebih baik, secara alami dan tulus.
Indah Razak/Jurnalis Go Indonesia







