Konjen Jepang Panen Padi Mansur di Gianyar, Universitas Waseda & Dwijendra Dorong Beras Lokal Bali Naik Kelas

IMG 20260612 WA0033

GIANYAR | Go Indonesia.Id- Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, mengikuti panen bersama Padi Mansur di kawasan Subak Timbul, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Kegiatan ini menjadi bagian dari proyek kerja sama internasional antara Waseda University dan Dwijendra University yang didukung Japan International Cooperation Agency atau JICA.

Panen bersama tersebut digelar pada Kamis (11/6/2026). Selain Miyakawa, hadir pula perwakilan JICA Indonesia, Niwa Kenji, tim Waseda University, Rektor Dwijendra University Gede Sedana, Wakil Rektor I dan Wakil Rektor II Dwijendra University, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Gianyar, serta Tim Komunikasi Gubernur Bali sekaligus Pokja Penanganan Kerusakan Ekosistem, I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Dalam kegiatan itu, Konjen Jepang dan rombongan tidak hanya meninjau lahan, tetapi juga ikut melakukan panen, perontokan padi, hingga melihat proses pengelolaan pascapanen.

Proyek kerja sama ini mengusung program β€œThe Project for Increasing Income through Building Participatory Food Value Chain in Indonesia”. Fokus utamanya adalah memperkuat rantai nilai pangan, khususnya padi dan beras lokal, secara partisipatif untuk meningkatkan pendapatan petani.

Salah satu varietas lokal yang dikembangkan dalam proyek ini adalah Padi Mansur. Varietas tersebut sudah lama dikenal di Bali dan masih dibudidayakan petani di Subak Timbul melalui sistem subak, meski saat ini pengembangan varietas padi hibrida semakin masif.

Pekaseh Subak Timbul, I Ketut Supatya, mengatakan proyek yang dijalankan Waseda University dan Dwijendra University melalui dukungan JICA telah memberi manfaat nyata bagi petani.

Menurut Supatya, pendapatan petani meningkat karena Beras Mansur kini tidak hanya dijual dalam bentuk biasa, tetapi telah melalui proses pengolahan pascapanen, pengemasan, dan branding.

β€œPeningkatan pendapatan terjadi karena harga beras yang dijual setelah melalui proses pascapanen, pengolahan, kemasan, dan branding menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelum proyek ini dilaksanakan,” kata Supatya.

Ia menjelaskan, Waseda University juga memfasilitasi bantuan seperangkat mesin pengolahan atau penggilingan padi menjadi beras. Selain itu, petani mendapat mesin kemasan vakum beras dalam berbagai ukuran.

Tak hanya bantuan alat, petani Subak Timbul juga mendapat pelatihan dan penyuluhan terkait pengoperasian serta pemeliharaan mesin, penguatan organisasi, manajemen, hingga agribisnis.

Pelatihan itu diarahkan untuk memperkuat value chain Beras Mansur melalui Komunitas Timbul Harmoni.

Sementara itu, Miyakawa Katsutoshi mengapresiasi partisipasi aktif petani Subak Timbul dalam proyek kerja sama yang dijalankan Waseda University dan Dwijendra University.

Ia berharap program tersebut dapat terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas Padi Mansur, termasuk pengelolaan pascapanennya, sehingga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.

Dalam diskusi seusai panen, Rektor Dwijendra University Gede Sedana mengatakan Padi Mansur memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di kawasan Subak Timbul. Menurutnya, kondisi agroklimat wilayah tersebut sangat mendukung pengembangan padi lokal Bali.

Sedana menilai, Beras Mansur yang dibudidayakan secara organik dapat memiliki nilai tambah lebih tinggi apabila didukung penerapan Good Agricultural Practices dan Good Processing Practices.

Menurutnya, pengembangan Padi Mansur juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan plasma nutfah Bali. Upaya ini sejalan dengan dorongan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga varietas lokal dan memperkuat sistem pertanian organik melalui regulasi daerah.

Sedana menambahkan, langkah penting berikutnya adalah memperluas segmen pasar Beras Mansur. Produk beras lokal yang sudah dikemas modern dinilai berpeluang diterima tidak hanya di Bali, tetapi juga di pasar nasional hingga internasional.

Namun, kata dia, perlu ada kerja terintegrasi antara petani, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga riset, serta pihak yang bergerak di bidang pengolahan dan pemasaran produk.

β€œPerluasan pasar menjadi langkah strategis agar produk Beras Mansur yang telah dikemas secara modern bisa diterima masyarakat luas, tidak hanya di Bali, tetapi juga sampai ke pasar internasional,” ujar Sedana.

Ia juga menekankan pentingnya identitas Bali dalam branding produk. Salah satunya dengan menggunakan aksara Bali pada kemasan Beras Mansur.

Menurut Sedana, penggunaan aksara Bali tidak hanya memperkuat tampilan produk, tetapi juga menjadi pembeda Beras Mansur sebagai produk lokal yang memiliki nilai budaya.

Melalui proyek ini, Padi Mansur diharapkan tidak hanya bertahan sebagai varietas lokal Bali, tetapi juga berkembang menjadi produk beras unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani Subak Timbul.

Reporter: Kadek


Advertisement

Pos terkait