DENPASAR | Go Indonesia.Id _Gubernur Bali Wayan Koster mengajak seluruh komponen masyarakat di Bali merayakan Rahina Tumpek Uye pada Sabtu (Saniscara Kliwon Uye), 5 September 2026. Perayaan dilakukan secara niskala dan sakala sebagai bentuk penghormatan terhadap satwa sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Penegasan itu disampaikan Koster di Bali, Kamis (Wraspati Pon Uye), 3 September 2026. Pelaksanaan Tumpek Uye mengacu pada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.
Koster menjelaskan Tumpek Uye memiliki makna memuliakan hewan, binatang, satwa, dan fauna sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni alam beserta seluruh isinya.
Menurutnya, manusia tidak semestinya terus-menerus mengambil manfaat dari alam. Dalam siklus enam bulan kalender Bali atau 210 hari, manusia juga harus memberi kembali kepada alam sebagai bentuk menjaga keseimbangan kehidupan.
βRahina Tumpek Uye bermakna memuliakan hewan/binatang, satwa, fauna dalam menjaga harmoni alam beserta isinya,β kata Koster dalam penegasan tersebut.
Secara niskala, Tumpek Uye akan dirayakan melalui persembahyangan atau mabakti bersama di wilayah masing-masing mulai pukul 07.00 Wita hingga selesai. Persembahyangan dilakukan menggunakan sarana upakara sesuai dresta Bali.
Sedangkan secara sakala, masyarakat diajak melaksanakan kegiatan nyata berupa pelepasan burung, tukik, ikan, serta jenis hewan lainnya dengan menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah.
Kegiatan pelepasan satwa juga dapat dilanjutkan dalam skala yang lebih besar pada Minggu, 6 September 2026.
Penegasan pelaksanaan Tumpek Uye tersebut ditujukan kepada pimpinan lembaga vertikal, bupati dan wali kota se-Bali, jajaran Majelis Desa Adat, pimpinan lembaga pendidikan, perbekel, lurah, bendesa adat, organisasi kemasyarakatan, pihak swasta, hingga seluruh komponen masyarakat.
Koster mengatakan perayaan Tumpek Uye merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga pengetahuan warisan leluhur Bali yang mengajarkan kehidupan manusia harus menyatu dan berjalan selaras dengan alam.
Menurutnya, para leluhur Bali telah mewariskan nilai kehidupan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai pihak yang bebas mengeksploitasi alam.
βManusia adalah alam itu sendiri, manusia harus sejalan/seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang manguripi,β ujarnya.
Koster menekankan alam harus dihormati sebagaimana manusia menghormati orangtua. Karena itu, masyarakat didorong mengasihi alam melalui prinsip masiha ri samasta jagat atau mengasihi seluruh alam beserta isinya.
Ia berharap pelaksanaan Tumpek Uye tidak berhenti pada ritual keagamaan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menjaga satwa dan kelestarian lingkungan.
βSebagai Gubernur Bali, titiang mengajak seluruh komponen masyarakat di Bali untuk bersama-sama merayakan/melaksanakan Rahina Tumpek Uye dengan sebaik-baiknya serta penuh rasa tanggung jawab demi Nindihin Gumi Bali,β kata Koster.
Kadek/ Jurnalis Go Indonesia






