NATUNA | Go Indonesia.Id _Sejumlah tokoh masyarakat dan orang tua murid di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, mempertanyakan kelanjutan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini belum kembali beroperasi.
Keluhan tersebut disampaikan kepada Goindonesia.id pada Jumat (17/7/2026). Warga mengaku heran karena di sejumlah daerah lain program MBG masih berjalan, sementara di Sedanau justru terhenti.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dapur MBG di Kelurahan Sedanau sebelumnya telah beroperasi selama beberapa bulan. Namun, belakangan kegiatan tersebut berhenti dan hingga saat ini belum ada kepastian mengenai waktu operasional kembali.
Sejumlah warga menduga penghentian operasional berkaitan dengan persoalan internal di lingkungan pengelola program. Meski demikian, masyarakat berharap permasalahan tersebut segera diselesaikan agar tidak berdampak pada para penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.
Salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa persoalan internal seharusnya tidak mengorbankan kepentingan masyarakat luas.
Jangan sampai persoalan internal mengorbankan kepentingan orang banyak, khususnya anak-anak sekolah yang seharusnya menerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis. Mereka sangat membutuhkan program tersebut,” ujarnya.»
Tokoh masyarakat lainnya juga menilai Program MBG yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto seharusnya dapat berjalan secara berkelanjutan di seluruh wilayah, termasuk di Kelurahan Sedanau.
Program ini sangat baik untuk mendukung kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Sangat disayangkan apabila pelaksanaannya terhambat hanya karena ego atau kepentingan segelintir oknum tertentu,” katanya.»
Menanggapi hal tersebut, Kepala Yayasan Dapur MBG Sedanau, Agung Anugrah Putra, saat dikonfirmasi Goindonesia.id melalui sambungan telepon menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengaktifkan kembali operasional dapur MBG.
Menurut Agung, pihak yayasan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan mitra atau investor berinisial BWS yang juga difasilitasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencari jalan tengah agar dapur MBG dapat kembali beroperasi. Namun hingga kini, pertemuan tersebut belum membuahkan kesepakatan.
Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Permasalahan ini sudah pernah kami dudukkan bersama mitra atau investor yang berinisial BWS dan difasilitasi oleh pihak BGN untuk mencari solusi agar dapur bisa kembali beroperasi. Namun sampai sekarang belum menemukan titik terang,” jelas Agung.»
Agung menambahkan, apabila pihak BWS menghendaki adanya penggantian kerugian, seperti biaya atau nilai peralatan dapur, pihak yayasan siap mengupayakan solusi dengan mencarikan investor lain yang bersedia menanggung atau mengganti biaya tersebut, sehingga operasional dapur MBG dapat segera kembali berjalan dan pelayanan kepada masyarakat tidak lagi terhambat.
Lebih lanjut, Agung mengatakan pihaknya juga telah mengajukan alternatif titik atau lokasi lain kepada pihak terkait agar Program MBG di Sedanau dapat segera kembali dinikmati oleh para penerima manfaat.
Kami tetap berupaya agar masyarakat, khususnya anak-anak sekolah di Sedanau, bisa kembali menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis secepatnya,” tambahnya.»
Sementara itu, saat dikonfirmasi Goindonesia.id, pihak investor Bong Wan Safri (BWS) menyampaikan bahwa proses penyelesaian persoalan saat ini masih mengarah pada pengalihan yayasan agar program MBG dapat kembali berjalan.
Dalam keterangannya, BWS membantah anggapan bahwa dirinya menghambat operasional dapur MBG. Ia menilai langkah yang diambil justru bertujuan agar program tersebut dapat berjalan lebih baik ke depannya.
Untuk kepentingan pribadinya mengatasnamakan anak-anak dan masyarakat,” tulis BWS.»
Ia juga menyampaikan bahwa menurutnya pihak yayasan tidak mengeluarkan modal dalam pembangunan dapur MBG.
Yayasan itu satu rupiah pun tidak keluar modal, Pak.”»
BWS mengaku selama operasional berlangsung dirinya memberikan dana operasional harian sebesar Rp600 ribu. Namun, menurutnya hal tersebut masih dianggap belum mencukupi oleh pihak yayasan.
Saya kasih sehari Rp600 ribu, mereka masih kurang. Maunya pegang semuanya, bahan baku dan lainnya. Saya tidak dibolehkan ikut sama sekali di dapur itu.”»
Ia menambahkan persoalan antara dirinya dengan yayasan dianggap telah selesai dan kini fokus pada proses pengalihan yayasan.
Saya sudah anggap damai dengan mereka. Sekarang kita usahakan pindah yayasan saja.”»
Terkait koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), BWS mengatakan pihaknya masih terus berkomunikasi.
BGN masih benah-benah. Kemarin saya ke kantor BGN, masih renovasi.”»
BWS juga menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah agar Program MBG kembali berjalan dan dapat dinikmati masyarakat Sedanau.
Saya mau yang terbaik untuk anak-anak Sedanau dan masyarakat. Karena saya orang asli Sedanau, pemuda Sedanau. Saya tidak mau orang lain memanfaatkan situasi dan merugikan masyarakat di sana.
Semoga bulan 8 nanti sudah ada jawaban yg pasti dari BGN dan dapur bisa berjalan lagi.
Saya akan usahakan 100% agar anak2 terima manfaat dari pemerintah kembali.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada kepastian kapan dapur MBG di Kelurahan Sedanau akan kembali beroperasi. Goindonesia.id akan terus memantau perkembangan penyelesaian persoalan tersebut serta memberikan ruang hak jawab kepada seluruh pihak apabila terdapat keterangan atau perkembangan baru.
Reporter: Baharullazi



