Pasar Sembako Murah di Sedanau Tuai Sorotan, Warga Nilai Anggaran Lebih Banyak Habis untuk Seremonial, Manfaat bagi Masyarakat Dipertanyakan

IMG 20260719 WA0076

NATUNA | Go Indonesia.Id – Program pasar sembako murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Natuna di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, justru menuai kritik dari sejumlah warga. Program yang seharusnya menjadi solusi meringankan beban masyarakat di tengah lesunya perekonomian dinilai belum memberikan manfaat yang signifikan karena harga kebutuhan pokok yang dijual tidak jauh berbeda dengan harga di toko.

Seorang warga Sedanau yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kepada Goindonesia.id bahwa selisih harga beberapa komoditas hanya berkisar sekitar Rp5.000 dibandingkan harga di pasaran.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kalau selisihnya hanya sekitar lima ribu rupiah, masyarakat merasa ini bukan pasar sembako murah, melainkan sekadar balik modal. Padahal ekonomi masyarakat sedang sulit dan kami berharap ada bantuan nyata dari pemerintah,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Ia mencontohkan beras kemasan 5 kilogram yang dijual sekitar Rp58.000. Menurutnya, jika harga acuan beras Bulog berkisar Rp11.000 per kilogram atau sekitar Rp55.000 per 5 kilogram, maka selisih tersebut dinilai terlalu kecil untuk memberikan dampak berarti bagi masyarakat.

Kritik juga diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Natuna yang dinilai lebih banyak menghabiskan anggaran untuk pelaksanaan kegiatan, termasuk kebutuhan panitia, fasilitas, dan penyambutan tamu dari Ranai, sementara manfaat yang diterima masyarakat dianggap tidak sebanding.

Kalau anggaran daerah sudah dikeluarkan untuk menggelar pasar murah, seharusnya masyarakat bisa membeli sembako dengan harga yang benar-benar jauh lebih murah. Jangan sampai anggaran habis untuk seremonial, tetapi rakyat tetap membeli dengan harga yang hampir sama seperti di toko biasa,” ujar warga tersebut.

Menurutnya, program yang dibiayai menggunakan uang rakyat semestinya benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial yang menghabiskan anggaran tanpa dampak nyata terhadap daya beli warga.

Warga juga menilai minimnya antusiasme masyarakat untuk berbelanja pada kegiatan tersebut diduga dipengaruhi oleh harga yang tidak jauh berbeda dengan harga pasar. Bahkan, ia mengaku lebih banyak melihat aparatur sipil negara (ASN) yang membeli kebutuhan pokok dibandingkan masyarakat umum.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan pendapat sebagian warga dan belum tentu mewakili seluruh masyarakat Sedanau.

Hingga berita ini diterbitkan, Goindonesia.id masih berupaya mengonfirmasi Pemerintah Kabupaten Natuna maupun instansi penyelenggara terkait dasar penetapan harga, besaran subsidi yang diberikan, serta penggunaan anggaran dalam pelaksanaan pasar sembako murah tersebut agar pemberitaan tetap berimbang sesuai kaidah jurnalistik.

Reporter: Baharullazi


Advertisement

Pos terkait