Politik Keberanian yang Salah Arah

1d 120

Oleh : Yonius Mirip
PAPUA | Go Indonesia.id-Membunuh bukan tanda kamu perihatin karena saudra mu terbunuh lalu membalas degan membunuh ,tapi tanda bahwa bangsa ini degan tagan sendiri mau musna tanpa negara datang untuk memusnakan bangsa papua .

Saya bukan kubu kiri atau kanan tapi saya adalah manusia yang sadar atas sikap saya dan tindakan bangsa saya maka sedikit edukasi yang kutulis bukan untuk di bagikan sebagai megumbar kebencian tapi ingin meluruskan bahwa manusia itu berharga dimata allah maupun sesama manusia itu sendiri bahkan hewan pun bisa memberikan penilaian kepada manusia bahwa manusia adalah makluk yang mulia.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Orang asli Papua, khususnya masyarakat Papua Pegunungan, memiliki sejumlah karakter sosial yang selama ini dikenal kuat, tegas dalam berbicara, lantang menyampaikan pendapat, berani menghadapi tantangan, memiliki harga diri, serta tidak mudah menyerah dalam mempertahankan sesuatu yang dianggap benar.

Karakter tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, Namun, ada satu persoalan besar yang perlu kita renungkan bersama yakni ketika keberanian kehilangan arah, ketegasan berubah menjadi kekerasan, harga diri berubah menjadi dendam, dan semangat mempertahankan kehormatan berubah menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa sesama manusia.

Di sinilah kita perlu melakukan introspeksi secara mendalam.

Jangan sampai keberanian yang seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan justru dipelihara sebagai alat untuk mempertahankan permusuhan, Jangan sampai sejarah perjuangan dan ketangguhan leluhur kita disalahartikan sebagai pembenaran untuk terus berperang melawan saudara sendiri.

Salah satu persoalan serius yang harus kita berani bicarakan secara terbuka adalah normalisasi pembunuhan dalam konflik horizontal di sejumlah wilayah Papua Pegunungan.

Ketika seseorang kehilangan nyawa akibat konflik antarsuku, terkadang peristiwa tersebut dipandang sebagai sesuatu yang biasa, Seolah-olah kematian manusia merupakan konsekuensi yang dapat diterima dalam mempertahankan harga diri kelompok.

Lebih memprihatinkan lagi, terkadang penyelesaian konflik lebih banyak diarahkan pada perhitungan denda adat, pembayaran kepala, tuntutan materi, dan berbagai bentuk kesepakatan antarkelompok.

Perlu ditegaskan bahwa mekanisme penyelesaian adat tidak selalu salah,Dalam banyak masyarakat adat memiliki peran penting untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, memulihkan hubungan sosial, dan mencegah konflik berulang.

Namun, pertanyaan nya apakah perdamaian benar-benar tercapai jika setelah pembayaran denda, persoalan dianggap selesai, sementara pola pikir yang membenarkan pembunuhan tetap hidup?

Apakah nyawa manusia dapat dipandang selesai hanya karena sejumlah uang telah dibayarkan?

Apakah keluarga yang kehilangan anak, ayah, ibu, saudara, atau anggota keluarganya benar-benar mendapatkan kembali kehidupan yang telah direnggut?

Uang dapat menjadi bagian dari mekanisme pemulihan adat, tetapi uang tidak dapat menghidupkan kembali manusia yang telah meninggal.

Semua ini bermuarah pada das kapital membunuh akan selesai sesampainya masi saja terus terulang ketika momentum politik pilkada telah tiba seorang bakal calek akan membentuk kelompok degan jiwa berani untuk melakukan perlawanan demi merebut kekuasan politik.

Disaat_saat ini Kita yang kelas terdidik secara skalasi penididikan tingkat sarjanan hingga doktor profesor juga harus kritis terhadap praktik politik lokal yang menjadikan konflik antarsuku sebagai ruang kepentingan.

Ketika konflik terjadi, ada kemungkinan pihak-pihak tertentu memperoleh keuntungan dari ketegangan sosial, Ada yang memanfaatkan kemarahan masyarakat untuk membangun pengaruh, memperkuat posisi kelompok, memperoleh dukungan politik, bahkan menjadikan penderitaan masyarakat sebagai modal kekuasaan.

Di sinilah masyarakat harus membuka mata.

Jangan sampai anak-anak muda menjadi korban di medan konflik, sementara orang-orang yang memainkan kepentingan politik justru menikmati keuntungan dari belakang.

Jangan sampai masyarakat kehilangan anggota keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan kesempatan pendidikan, dan kehilangan masa depan hanya karena kepentingan segelintir orang.

Kita perlu bertanya secara kriti, siapa yang sebenarnya mendapatkan keuntungan ketika dua suku saling berperang?

Siapa yang kehilangan anak-anaknya? Siapa yang kehilangan masa depannya? Dan siapa yang harus membangun kembali kehidupan setelah konflik berakhir?

Disanalah peran penting sebagai seorang yang telah terdidik secara pendidikan dan pegetahuan
Sebab, kita dapat menemukan seseorang yang memiliki gelar sarjana, magister, bahkan doktor, tetapi belum tentu mampu melepaskan dirinya dari pola pikir kekerasan yang diwariskan dan dipelihara dalam lingkungan sosialnya.

Ada orang yang berbicara tentang kebebasan, penentuan nasib sendiri (self-determination), demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan kemerdekaan, tetapi dalam kehidupan sosial masih membenarkan tindakan kekerasan terhadap sesama manusia.

Ini merupakan sebuah kontradiksi moral yang harus kita evaluasi.

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kebebasan suatu bangsa, sementara kebebasan hidup saudara sendiri tidak kita hormati?

Bagaimana mungkin kita memperjuangkan hak asasi manusia, tetapi pada saat yang sama menganggap pembunuhan terhadap sesama sebagai sesuatu yang dapat dimaklumi?

Bagaimana mungkin kita menuntut keadilan dari pihak lain, sementara kita belum mampu membangun keadilan di antara sesama kita?

Pendidikan sejati bukan hanya tentang gelar akademik. Pendidikan sejati harus mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, menghormati kehidupan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Kita tidak sedang mengajak masyarakat Papua Pegunungan meninggalkan adat dan budaya leluhur.

Sebaliknya, kita harus menjaga adat sebagai identitas dan kekuatan masyarakat.

Namun, adat juga harus terus direfleksikan agar nilai-nilai yang diwariskan tetap berpihak pada kehidupan, kemanusiaan, keadilan, dan masa depan generasi berikutnya.

Jangan sampai adat hanya dipahami sebagai mekanisme membayar denda setelah seseorang dibunuh, tetapi tidak cukup kuat mencegah pembunuhan sebelum terjadi.

Jangan sampai perdamaian hanya menjadi kesepakatan sementara, sementara dendam terus diwariskan kepada anak-anak.

Kita harus mengembangkan penyelesaian konflik adat yang mengutamakan pencegahan kekerasan, perlindungan korban, tanggung jawab pelaku, pemulihan keluarga, dan perdamaian yang berkelanjutan.

Adat yang kuat bukanlah adat yang membiarkan permusuhan berlangsung turun-temurun, Adat yang kuat adalah adat yang mampu menyelamatkan masyarakatnya dari kehancuran

Saudara-saudaraku di seluruh wilayah Papua Pegunungan, kita harus mulai mengubah ukuran keberanian.

Jangan lagi mengukur keberanian seseorang dari berapa banyak orang yang dapat ia lawan, berapa banyak nyawa yang dapat ia hilangkan, atau seberapa besar ketakutan yang dapat ia timbulkan kepada kelompok lain.

Ukurlah keberanian seseorang dari kemampuannya menahan diri ketika sedang marah, keberaniannya menolak ajakan perang, kemampuannya mengakui kesalahan, dan kesediaannya meminta maaf ketika melakukan kekeliruan.

Orang yang mampu menghentikan konflik ketika semua orang ingin berperang adalah orang yang memiliki keberanian luar biasa.

Orang yang mampu menyelamatkan nyawa ketika kelompoknya menuntut pembalasan adalah orang yang memiliki kedewasaan moral.

Dan orang yang berani berdiri di hadapan kelompoknya sendiri untuk mengatakan bahwa membunuh sesama manusia adalah tindakan yang salah, sesungguhnya sedang menunjukkan kepemimpinan yang bermartabat.

Sudah saatnya kita mengakhiri politik keberanian yang salah arah ,Sudah saatnya kita berhenti menjadikan konflik antarsuku sebagai bagian yang dianggap wajar dalam kehidupan masyarakat.

Sudah saatnya para tokoh adat, tokoh gereja, tokoh pemuda, perempuan, intelektual, mahasiswa, aktivis, dan seluruh elemen masyarakat mengambil tanggung jawab bersama.

Jangan hanya berbicara tentang perdamaian ketika konflik sudah menelan korban, Bangunlah kesadaran sebelum senjata digunakan, sebelum rumah dibakar, sebelum keluarga kehilangan anggotanya, dan sebelum anak-anak kembali menjadi korban dari permusuhan orang dewasa.

Kita harus menciptakan generasi yang bangga menjadi orang Papua Pegunungan bukan karena kemampuan berperang, melainkan karena kemampuan membangun peradaban, menjaga martabat manusia, mempertahankan tanah leluhur, dan menciptakan kehidupan yang aman bagi semua orang.

Jangan sampai anak cucu kita mewarisi cerita tentang siapa yang membunuh siapa, suku mana yang membalas suku mana, dan keluarga mana yang harus membayar denda kepada keluarga lainnya.

Wariskanlah cerita tentang bagaimana leluhur dan generasi kita berhasil menghentikan perang, membangun persaudaraan, serta menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Karena tidak ada kehormatan yang dapat dibangun di atas kematian sesama manusia,Tidak ada kemenangan yang patut dibanggakan ketika seluruh masyarakat harus menanggung kehancuran,Dan tidak ada masa depan yang dapat dibangun jika kita terus memelihara dendam masa lalu.

Agustinus selegani /Jurnalis Kaperwil go Indonesia.id wilayah intan jaya provinsi Papua Tengah

Penulis: Yonius Mirip


Advertisement

Pos terkait