Kemarau Lebih Sepekan, Warga Morotai Khawatir Karhutla Kembali Terjadi

0A 61 e1786422683580

MOROTAI | Go Indonesia.id-Kemarau yang berlangsung lebih dari sepekan di Kabupaten Pulau Morotai mulai memicu kekhawatiran warga terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisi cuaca yang panas dan lahan yang mulai mengering dinilai dapat memperbesar risiko kebakaran, terutama jika aktivitas pembakaran lahan tidak diawasi.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Saat memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan kerap terjadi di sejumlah wilayah Morotai, baik akibat aktivitas masyarakat maupun kondisi lahan yang mudah terbakar.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Salah satu warga, Sani, mengatakan kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir yang cukup panas membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap aktivitas pembakaran sampah maupun lahan.

“Kalau sudah kemarau seperti ini, kita harus lebih hati-hati. Rumput dan semak mulai kering, kalau ada api bisa cepat merambat,” kata Sani.

Ia berharap pemerintah dan instansi terkait tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi melakukan pencegahan sejak awal, terutama di wilayah yang memiliki banyak vegetasi kering.

“Jangan tunggu sampai ada kebakaran baru turun. Kalau bisa dari sekarang sudah ada patroli dan sosialisasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah unsur terkait di Kabupaten Pulau Morotai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya Karhutla.

Langkah itu ditandai dengan Apel Siaga Karhutla yang digelar di Lapangan Apel Polres Pulau Morotai, Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan, Selasa (11/8/2026).

Apel melibatkan unsur TNI-Polri, Brimob, Satpol PP, Dinas Kesehatan, BNPB serta sejumlah instansi terkait. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana serta memperkuat koordinasi lintas instansi apabila terjadi kebakaran.

Wakapolres Pulau Morotai Kompol Djamaludin, S.AP., yang memimpin apel menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah api membesar. Pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas.

“Keberhasilan kita dalam menangani karhutla bukan hanya diukur dari seberapa cepat kita memadamkan api, tetapi yang lebih utama adalah seberapa mampu kita mencegah agar kebakaran tidak terjadi dan mencegah api berkembang menjadi lebih luas,” tegasnya.

Ia meminta seluruh unsur terkait memperkuat langkah preventif dan preemtif, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembukaan lahan dengan cara membakar.

Selain itu, pemetaan wilayah rawan Karhutla, patroli terpadu dan deteksi dini juga perlu ditingkatkan. Kesiapan personel serta peralatan pendukung harus dipastikan agar dapat digerakkan dengan cepat apabila terjadi keadaan darurat.

“Diperlukan sinergi, koordinasi dan kolaborasi yang kuat antara TNI-Polri, pemerintah daerah, instansi terkait, dunia usaha dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang dengan sengaja maupun karena kelalaiannya menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Bagi masyarakat, kewaspadaan menjadi semakin penting seiring berlangsungnya musim kemarau. Kebakaran yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas ketika kondisi vegetasi kering dan angin cukup kuat.

Karhutla bukan hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat serta menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Karena itu, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung.

Apel Siaga Karhutla berlangsung sekitar 30 menit dan berakhir pada pukul 09.20 WIT dalam keadaan aman, tertib dan terkendali.

Mir/Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait